Monitoring Pertumbuhan Padi Cakrabuana Model PM-AAS Tipe 6 : 1 di Desa Waimital, Kab. SBB
Pertumbuhan padi varietas Cakrabuana dalam penerapan model PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System) tipe 6:1 di Maluku menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Monitoring dilakukan oleh Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku yang diwakili Klara Naibaho pada 23 Juli 2026 di lahan milik petani Sukirman dan Marhaban. Sebelum penanaman, jerami telah diaplikasikan ke lahan dan diberikan larutan EM4 untuk mempercepat proses fermentasi bahan organik. Sementara itu, benih padi terlebih dahulu melalui proses seleksi dengan metode perendaman untuk memastikan benih yang ditanam memiliki kualitas yang baik.
Pendampingan intensif turut menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan budidaya. Penyuluh pertanian kabupaten bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) secara rutin mengunjungi lahan petani dan memberikan arahan teknis sesuai kondisi tanaman di lapangan. Pemupukan pertama menggunakan pupuk Phonska dan Urea juga telah dilakukan pada umur 11 hari setelah tanam (HST). Secara umum, tanaman menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, menjadi indikasi bahwa penerapan teknologi budidaya dan pendampingan di lapangan mulai memberikan hasil positif.
Namun, di tengah pertumbuhan yang menggembirakan tersebut, petani kini menghadapi tantangan berupa keterbatasan ketersediaan air akibat musim kemarau. Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman apabila berlangsung dalam waktu yang panjang. Karena itu, upaya mencari solusi pemenuhan kebutuhan air menjadi perhatian penting agar pertumbuhan padi Cakrabuana tetap optimal hingga panen. Kolaborasi antara BRMP Maluku, penyuluh, POPT, dan petani terus diperkuat sebagai langkah strategis untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus memastikan penerapan model PM-AAS dapat berjalan secara berkelanjutan di tengah tantangan perubahan kondisi lingkungan.